Kamis, 05 Juni 2014

CARA MENYAMPAIKAN FAKTA



            Menyampaikan fakta itu gampang-gampang susah. Maka, untuk itu alangkah baiknya   memperhatikan beberapa poin penting berikut.



Setiap pagi Rafa selalu minta mandi sama ayah. Bukan berarti tidak mau sama bunda, karena ayah lebih sabar ketika Rafa mengajak bermain air dulu sebelum akhirnya mandi. Pun juga hari ini. Namun hari ini ada yang berbeda. Kalau biasanya aku mandi yang terakhir, hari ini mandi duluan. Ketika aku sedang mandi ayah lagi asyik tiduran di kamar. Ketika aku sudah selesai mandi, dan menyiapkan seragam hari ini  ayah tidak tahu, sehingga ketika rafa mengajak mandi ayahnya bilang masih ada bunda. Sambil dengerin dialog ayah dan rafa aku ketawa ngikik, batinku berbisik (dasar anak, dikiranya tidak tahu fakta). Inilah dialog ayah sama Rafa di kamar:
Rafa       : ayah, ayo mandi!
Ayah      : masih ada bunda
Rafa       : nggak
Ayah      : (masih tetap dengan pengetahuannya dan menolak permintaan rafa) bunda masih mandi
Rafa       : (yang sudah tahu fakta baru) ngotot) nggak (sambil nada emosi)
Ayah      : ya ya ya ayoo
Akhirnya rafa bergegas ke kamar mandi yang dibuntuti ayah
       Dari kejadian hari ini aku terinspirasi bahwa menyampaikan fakta itu tidak hanya asal menyampaikan, tapi harus ada poin penting seperti tips dibawah ini.
Tips menyampaikan fakta :
1.       Sampaikan fakta itu dengan kalimat yang tepat
2.       Gunakan kalimat pendukung seperlunya
3.       Gunakan bahasa yang mudah dipahami penerima

Senin, 16 Juli 2012

NAK, BERMAINLAH SEPUASMU! [2]


Jangan pernah sesekali memarahi, menghardik, apalagi sampai memaki karena saking jengkelnya dengan polah-tingkah anak! Pola-pola orang tua berperilaku dan berkata, akan dipelajari dan ditiru anak. 

Sebab selanjutnya, kelak sikap tersebut
akan dijadikan bahan-bahan anak bersikap
di kemudian hari. Ia akan suka juga memarahi,
menghardik dan memaki setiapkali menghadapi
masalah-masalahnya, bahkan cara ia menghadapi kedua orang tua dan lingkungannya!

     Kalimat di atas bukanlah kalimat saya. Itu adalah ungkapan seorang peminat anak, Dorothy Law. Barangkali ketika saya belum punya anak, sangat mudah menerima dan mengucapkannya, bahkan dengan entengnya memberikan nasehat pada orang tua yang suka demikian pada buah hatinya. Tetapi ternyata tidak semudah itu ketika kita sudah punya anak.
     Betapa repotnya mengatasi polah anak. Ya, bagaimana caranya jika tidak dimarahi untuk menghentikan kelakuan anak? Setelah dimarahi, baru ia bisa diam dan tak banyak tingkah yang bisa saja merugikan dirinya sendiri. Meski sudah diberitahu, diperingatkan agar berhenti, ia tetap saja melakukannya; naik di atas meja sambil berjingkrak-jingkrak, bikin tatanan buku yang sudah rapi jadi berantakan, buka lemari dan mengeluarkan semua isinya! Duh, gemes bener.
     Tetapi, dipikir-pikir, cara pikir saya berubah suatu hari. Yaitu ketika kasus si kecil terkena panasnya knalpot dan bikin tangannya kanannya melepuh. Walau sudah tahu tangannya sedang tak bisa digunakan, ia tetap saja menggunakan tangannya mengambil benda. Ia pun spontan menjerit dan menangis setelah itu. Bingung juga ngatasinya, saya sempat kepikiran akan melarangnya bermain.
     “Biarkan saja ia bermain. Dan biarkan saja ia menyentuh barang-barang dengan tangannya yang terluka...” kata suami mencegah niat saya seperti sama sekali tak cemas. “Wah, gimana mau dibiarin?? Bisa-bisa tangannya tak sembuh-sembuh, yah!” sahut saya tak sabar.
     “Bukan begitu. Maksudnya, agar dia mengetahui sendiri kalau tangan yang terluka itu ia gunakan untuk menyentuh benda, maka bakalan sakit. Setelah itu, baru kita kasih pesan. Nak, sakit kan kalau tangannya nggak dijaga? Lama-lama ia pasti akan mengerti tentang luka di tangannya sendiri. Bagus itu pembelajaran nalarnya”.
     Mulanya saya tidak setuju, tapi mencoba mengamini ucapan suami meski tak tega. Saya jalankan ucapannya, ketika ia menangis karena tangan dibuat menyentuh itu sakit, saya memberinya pengertian.
    Anehnya, tidak sampai tiga kali kasus, ia sudah mengerti. Ia mulai sangat menjaga tangannya. Pernah ia menyentuh benda, dan ia mengaduh. Lucunya, ia cuma meringis dan mesam-mesem saat kami tak sengaja melihatnya. Sepertinya ia lupa kalau tangannya luka.

Ternyata Rasulullah tak Pernah Marahi Anak Kecil!

     Mengingat kasus terlukanya tangan anak, saya jadi teringat salah satu hadist yang menceritakan tentang betapa Nabi Saw tak pernah memarahi anak. Bahkan, ketika sedang shalat sekalipun.
      Dalam hadist itu dikisahkan, Nabi Saw malah membiarkan Cucunya, Hasan dan Husein bermain-main di punggungnya ketika beliau dalam posisi rukuk. Beliau tidak mengangkat badan, kecuali setelah dua cucunya turun dari punggung beliau.
      Rupanya, di umur-umur segitu, anak memang masanya bermain. Ia sedang suka-sukanya melakukan eksperimen dan eksplorasi diri. Orang tua posisinya hanya memberikan sedikit pengertian jika polahnya merugikan atau salah. Barangkali, di awal-awal ia seperti tidak jera. Sehingga terkesan bandel dan nakal, sulit diatur.
     Mula-mula saya tak mengerti alasan kenapa anak kecil tak boleh dimarahi. Apalagi, jika menyimak teladan Nabi Muhammad Saw. Saya pikir, itu pengecualian. Beliau adalah seorang Nabi, dan saya hanyalah hamba Tuhan yang biasa. Orang awam.
     Bayangkan saja, betapa repotnya jika harus berdiam diri atau membiarkan anak dengan polahnya yang macam-macam dan membandel. Mana bisa saya tidak jengkel dan tidak memarahinya. Belum lagi pas sibuk-sibuknya anak rewel, dan bergerak ke sana-kemari.
     Nyatanya, tak saya sangka, meski masih belum bisa diajak ngobrol dengan bahasa karena baru belajar bicara, ia bisa diberi pengertian. Sungguh fenomena menakjubkan. Yaa meski harus dijelaskan berulang kali.
     Dalam penelitian ilmuwan modern, apa yang diterapkan oleh Nabi Saw ternyata memiliki korelasinya. Menurut  hasil penelitian dari Baylor College of Medicine, menyebutkan bahwa otak anak akan mengecil 20% - 30% dari ukuran normal jika anak jarang diajak bermain atau disentuh. Rupanya, bermain adalah cara menstimulasi untuk memercepatkan tumbuh-kembang kecedasan anak.
     Dan ternyata lagi, 80% otak anak berkembang pesat sekali terutama pada periode yang disebut dengan golden age, atau masa-masa keemasan potensi anak, yaitu antara di usia 0 hingga lima tahun. Menariknya, tiap-tiap informasi apapun akan diserapnya, tanpa melihat baik atau buruk.
     Artinya, ia akan menyerap semua informasi di sekitarnya, ia akan merekam bagaimana caranya orang tuanya menyikapi segala sesuatu, caranya bicara, maupun caranya bertindak atau sesuatu.
     Kesimpulan saya akhirnya, saat melihat sikap anak yang seperti melawan, mungkin pada dasarnya, bukan sebab ia sedang ingin membantah atau melawan. Namun, ia hanya sedang mencoba ingin membuktikan kebenaran ucapan orang tuanya. Barulah setelah ia tahu, polahnya berbahaya, ia berhenti sendiri. Ia dapat pengetahuan baru, kalau tidak hati-hati, ia bisa jatuh lagi kesekian kali. Ia belajar dari pengalaman!
     Barangkali, inilah yang dimaksud dengan proses emas otak anak tersebut. Jika demikian halnya, masuk akal juga mengapa Nabi Saw memilih tidak pernah marah pada anak-anak kecil.
Baiklah, Nak. Bermainlah sepuasmu. Bunda di sampingmu, untuk menjagamu selalu. []

Jumat, 13 Juli 2012

NAK, BERMAINLAH SEPUASMU! [1]


Di umur-umur hampir satu tahun, anak mulai belajar berjalan. Adakalanya ia menangis karena terjatuh. Tetapi tampaknya, ia tak pernah jera dan trauma. Ia terus saja mencoba berjalan. Acapkali kita juga dibuat panik karena polahnya. Bayangkan, geraknya lama-lama jadi sangat cepat. Dan, sering tak terduga!




Si kecil saya, sering tiba-tiba ia naik ke atas meja
dan berjingkrak-jingkrak tanpa saya tahu.
Pernah suatu kali, ia menarik-narik meja belajar.

   Rupanya, ia sangat tertarik dengan benda-benda yang saya gantung di tembok. Lalu, blakkkk. Meja terpelanting karena berat sebelah. Kontan ia menangis. 
Peristiwa yang paling menegangkan dan mendebarkan, ketika saya dipanggil pengasuhnya saat sedang sibuk mengajar di sekolah. Merasa ada yang ganjil, saya langsung memenuhi panggilan. Subhanallah, ternyata tangan kanannya, mulai dari telapak sampai jari-jarinya melepuh.

 Kata ibu pengasuh, tangannya menyentuh knalpot sepeda motor. Saat kejadian, pintu rumah sedang terbuka. Tiba—tiba si kecil sudah di luar asyik bermain dengan sepeda motor. Tentu ini bukan salah atau kelalaian ibu pengasuh belaka. Saya tak bisa menyalahkannya serta-merta. Sebab, di umur-umur segitu, memang masa dia lagi senang-senangnya bermain dan mengeskplorasi kemampuannya bergerak ke sana-kemari. 
   Apalagi, saya pribadi juga kerap juga dibikin kaget. Sering sewaktu bangun malam, anak sudah tidak ada di samping. Tahu-tahu, dia sudah asyik bermain di ruang tamu. Ibu mana yang tak khawatir, wong banyak benda-benda yang bisa berbahaya jika disentuh anak. Gemes bener melihatnya. 
   Saking gemesnya, saya kadang spontan memarahinya. Tetapi, ia tetap saja dengan polahnya. Sepertinya, ia tidak mengenal rasa takut, merasa jera, maupun trauma meski beberapa kali jatuh dan terluka.

Rabu, 20 Juni 2012

MENGETAHUI DAN CARA MENGATASI ANAK BERMASALAH (2)


Sebagai orang tua, wajar jika terkadang 
kita seringkali mengeluh ketika anak  
sedang bermasalah, atau sedang nakal-nakalnya.






Misalnya, ketika dinasehati selalu bandel, berani sama orang tua, disuruh sholat selalu ngeles dan sebagainya. Tanpa kita sadari justru kita menyalahkan anak-anak ketika ada masalah dengan mereka. 
    Akibatnya emosi kita semakin tidak terkontrol, tangan melayang ke badan mereka tak terasa. Saya menemukan resep menarik dari Founder SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) Ahmad Faiz Zainuddin. 

Ia memberikan tips untuk mengatasi  masalah dengan anak yaitu :
1.      Perbaiki hubungan kita dengan Tuhan (ALLAH)
Ketika kita menduakan perintah-perintah Allah, Allah akan menegur kita sebagai bentuk sayangnya Allah kepada kita. Seringkali kita tidak sadar jika ditegur melalui sakit, rizki yang banyak dan yang lain. Maka Allah akan menegur kita melalui anak kita. Maka dari itu, sebelum menerapi anak kita yang bermasalah kita terapi dulu diri kita dengan memperbaiki hubungan kita dengan ALLAH. 
2.      Perbaiki hubungan kita dengan orang tua kita
Sabda nabi, “ridha allah bergantung pada ridha kedua orang tua, dan kemurkaan allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”. Dari sabda nabi tersebut, apabila kita sering menyakiti orang tua Allah tidak rela, walaupun kadang ketika kita hanya menyampaikan permintaan maaf bahasa orang tua kita sudah saya maafkan nak. 

Bentuk ketidakrelaan Allah itu bisa jadi dilewatkan anak-anak kita. Untuk itu, kita harus membuat hubangan kita dengan orang tua menjadi lebih baik, agar Allah membaikkan hubungan kita dengan anak kita dengan sendirinya.
3.      Perbaiki hubungan kita dengan pasangan
Kita menasehati kemudian dibantah, kita merasa sakit hati. Pernahkah kita merasa menyakiti hati pasangan kita ketika sedang berkomunikasi dengannya? Untuk itulah pentingnya memperbaiki hubungan kita dengan pasangan. Jika kita sebagai tauladan bagi anak-anak saja kita tidak bisa saling menghormati bagaimana kita bisa menuntut anak kita untuk menghormati kita. 

Dengan memperbaiki hubungan kita dengan pasangan, anak akan meningkatkan kepercayaan kepada kita hingga berubah menghormati kita. Kalau tingkat kepercayaan anak dengan kita meningkat, ketika kita menasehati niscaya akan didengarkan. 
4.      Perbaiki hubungan kita dengan anak kita yang sedang bermasalah
Jika dengan Allah, Orang tua dan pasangan sudah kita perbaiki saatnya memperbaiki hubungan dengan anak kita yang bermasalah. Kalau sebelumnya kita kurang memperhatikan anak kita yang bermasalah saatnya memberikan perhatian khusus secara intensif. 
5.      Perhatikan hubungan kita dengan semua orang
Dan yang terakhir, mari kita tengok hubungan kita dengan semua orang. Bagaimana kita memperlakukan orang, apakah kita memperlakukan orang dengan baik jika kita sedang butuh dengan orang yang bersangkutan atau kita selalu memperlakukan baik kepada siapa saja tanpa memandang bahwa orang itu yang anda butuhkan atau bukan. 

Jika kita masih memperlakukan orang lain dengan semau kita, pastilah Allah tidak rela. Bentuk ketidakrelaan Allah itu bisa berupa berbagai macam hal. Bisa jadi kita tidak dipercaya banyak orang, rezeki seret juga bisa berupa anak kita bermasalah (anak nakal). Untuk memperbaikinya, mulailah perlakukan semua orang dengan baik, baik itu tukang sapu, satpam, sampai pejabat sekalipun.

Selasa, 19 Juni 2012

MENGETAHUI DAN CARA MENGATASI ANAK BERMASALAH (1)


Bagi orang tua, kehadiran anak adalah anugrah tiada tanding.
Kebahagiaan yang melimpah. Meski begitu, terkadang sebagai orang tua
kita juga kerap mengeluh dengan sikap atau perilaku nakal mereka.


    Entah itu karena ia bandel, suka melawan perintah, atau bahkan karena prestasi belajarnya yang tidak pernah membaik. Apalagi jika ia suka bikin iseng dan onar sama teman-temannya, dan di rumah suka bikin gaduh, dan bawaannya kisruh terus.

     Kira-kira apa ya penyebabnya? Beberapa waktu lalu, ketika saya mencari bagaimana cara mengajar anak-anak didik, saya sangat puas ketika menemukan resep mendidik anak dari seorang ahli pengasuhan anak terkemuka dari Univesity Of California, Berkeley, Prof. Diana Baumrind Blumberg, Phd.


EMPAT RAHASIA TERBENTUKNYA PERILAKU ANAK
 
     Ia memberikan empat rahasia terbentuknya karakter atau kepribadian anak. Anak nakal, pemalas, penuh semangat,  sangat ditentukan oleh  bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Keempat pola asuh ini, semoga bisa menjadi bahan-bahan agar kita bisa mengetahui cara membentuk kembali kepribadian buah hati.

     Pertama, Pola Asuh Secara Demokratis. Pola asuh ini menjadikan anak memiliki kepribadian yang mandiri, mampu mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya, tidak mudah stress,  minatnya selalu luar biasa terhadap hal-hal yang baru (termasuk pelajaran), dan ia selalu mau diajak kerja sama atau kooperatif terhadap orang lain.

    Tentu, ini bentuk kepribadian setiap orang tua. Lalu seperti apa pola asuh demokratis tersebut? Menurut ahli terkemuka tentang pengasuhan anak di Amerika Serikat itu, orang tua yang selalu memprioritaskan kepentingan anak. Orang tua tidak ragu-ragu mengendalikan mereka (anak-anak). Orang tua senantiasa memilih bersikap rasional ketika menyikapi setiap perilaku anak. Ia  bersikap realistis terhadap kemampuan anak.

     Misalnya, ia tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. Jikapun anak prestasinya rendah di sekolah, ia memilih membimbing anaknya agar bisa menguasai pelajaran, ketimbang memintanya dengan keras dan tajam. Apalagi dengan cara membentak dan menghardik. Selain itu, orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

    Kedua, Pengaruh Pola Asuh Otoriter. Pola asuh ini menjadikan anak menjadi penakut, pendiam, tertutup, tidak punya inisiatif, suka  menentang atau bandel, suka melanggar norma-norma,  kepribadiannya lemah, mudah cemas dan terkesan suka menarik diri.

   Ini adalah cara pola asuh yang sifatnya kebalikan dari pola asuh demokratis, yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang diinginkan oleh orang tua.

      Ia  tidak mengenal kompromi, ia selalu berkata pokoknya, dan pokoknya anak harus nurut, titik.  Artinya, orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik, apakah sang anak bisa mengerti atau tidak akan perintah atau kemauan si orang tua.

     Ketiga, Pengaruh Pola Asuh Permisif. Pola asuh ini  menghasilkan  anak-anak yang impulsif, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. Mengapa anak bisa demikian? Sebabnya, karena kebiasaan  orang tua memanjakan anak.

   Akhirnya, orang tua membiarkan saja kemauan anak tanpa mau mengatur dan mengelolanya. Hanya agar anak senang! Sayangnya, caranya salah. Anak  kemudian dibiarkan tanpa pengawasan yang cukup. Orang tua juga cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak

      Keempat, Pengaruh Pola Asuh Penelantar. Pola asuh ini menjadikan  anak yang suka mood-moodan, alias malas-malasan, impulsif, agresif, kurang punya tanggung jawab, tidak mau mengalah, self esteem ( harga diri ) yang rendah, sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya.

        Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya, waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anak-anak mereka. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini, mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya.
       Bersambung . . . .