Jangan
pernah sesekali memarahi, menghardik, apalagi sampai memaki karena saking
jengkelnya dengan polah-tingkah anak! Pola-pola orang tua berperilaku dan
berkata, akan dipelajari dan ditiru anak.
Sebab selanjutnya, kelak sikap tersebut
akan dijadikan bahan-bahan anak bersikap
di kemudian hari. Ia akan suka juga memarahi,
menghardik dan memaki setiapkali menghadapi
masalah-masalahnya, bahkan cara ia menghadapi
kedua orang tua dan lingkungannya!
Kalimat di atas bukanlah kalimat saya. Itu
adalah ungkapan seorang peminat anak, Dorothy Law. Barangkali ketika saya belum punya anak, sangat
mudah menerima dan mengucapkannya, bahkan dengan entengnya memberikan nasehat
pada orang tua yang suka demikian pada buah hatinya. Tetapi ternyata tidak
semudah itu ketika kita sudah punya anak.
Betapa repotnya mengatasi polah anak. Ya,
bagaimana caranya jika tidak dimarahi untuk menghentikan kelakuan anak? Setelah
dimarahi, baru ia bisa diam dan tak banyak tingkah yang bisa saja merugikan
dirinya sendiri. Meski sudah diberitahu, diperingatkan agar berhenti, ia tetap
saja melakukannya; naik di atas meja sambil berjingkrak-jingkrak, bikin tatanan
buku yang sudah rapi jadi berantakan, buka lemari dan mengeluarkan semua
isinya! Duh, gemes bener.
Tetapi, dipikir-pikir, cara pikir saya
berubah suatu hari. Yaitu ketika kasus si kecil terkena panasnya knalpot dan
bikin tangannya kanannya melepuh. Walau sudah tahu tangannya sedang tak bisa
digunakan, ia tetap saja menggunakan tangannya mengambil benda. Ia pun spontan
menjerit dan menangis setelah itu. Bingung juga ngatasinya, saya sempat
kepikiran akan melarangnya bermain.
“Biarkan saja ia bermain. Dan biarkan saja ia
menyentuh barang-barang dengan tangannya yang terluka...” kata suami mencegah
niat saya seperti sama sekali tak cemas. “Wah, gimana mau dibiarin?? Bisa-bisa
tangannya tak sembuh-sembuh, yah!” sahut saya tak sabar.
“Bukan begitu. Maksudnya, agar dia mengetahui
sendiri kalau tangan yang terluka itu ia gunakan untuk menyentuh benda, maka bakalan
sakit. Setelah itu, baru kita kasih pesan. Nak, sakit kan kalau tangannya nggak
dijaga? Lama-lama ia pasti akan mengerti tentang luka di tangannya sendiri.
Bagus itu pembelajaran nalarnya”.
Mulanya saya tidak setuju, tapi mencoba
mengamini ucapan suami meski tak tega. Saya jalankan ucapannya, ketika ia
menangis karena tangan dibuat menyentuh itu sakit, saya memberinya pengertian.
Anehnya, tidak sampai tiga kali kasus, ia
sudah mengerti. Ia mulai sangat menjaga tangannya. Pernah ia menyentuh benda,
dan ia mengaduh. Lucunya, ia cuma meringis dan mesam-mesem saat kami tak
sengaja melihatnya. Sepertinya ia lupa kalau tangannya luka.
Ternyata
Rasulullah tak Pernah Marahi Anak Kecil!
Mengingat kasus terlukanya tangan anak, saya
jadi teringat salah satu hadist yang menceritakan tentang betapa Nabi Saw tak
pernah memarahi anak. Bahkan, ketika sedang shalat sekalipun.
Dalam hadist itu dikisahkan, Nabi Saw malah
membiarkan Cucunya, Hasan dan Husein bermain-main di punggungnya ketika beliau
dalam posisi rukuk. Beliau tidak mengangkat badan, kecuali setelah dua cucunya
turun dari punggung beliau.
Rupanya, di umur-umur segitu, anak memang
masanya bermain. Ia sedang suka-sukanya melakukan eksperimen dan eksplorasi
diri. Orang tua posisinya hanya memberikan sedikit pengertian jika polahnya merugikan
atau salah. Barangkali, di awal-awal ia seperti tidak jera. Sehingga terkesan
bandel dan nakal, sulit diatur.
Mula-mula saya tak mengerti alasan kenapa
anak kecil tak boleh dimarahi. Apalagi, jika menyimak teladan Nabi Muhammad
Saw. Saya pikir, itu pengecualian. Beliau adalah seorang Nabi, dan saya
hanyalah hamba Tuhan yang biasa. Orang awam.
Bayangkan saja, betapa repotnya jika harus
berdiam diri atau membiarkan anak dengan polahnya yang macam-macam dan
membandel. Mana bisa saya tidak jengkel dan tidak memarahinya. Belum lagi pas
sibuk-sibuknya anak rewel, dan bergerak ke sana-kemari.
Nyatanya, tak saya sangka, meski masih belum
bisa diajak ngobrol dengan bahasa karena baru belajar bicara, ia bisa diberi
pengertian. Sungguh fenomena menakjubkan. Yaa meski harus dijelaskan berulang
kali.
Dalam penelitian ilmuwan modern, apa yang
diterapkan oleh Nabi Saw ternyata memiliki korelasinya. Menurut hasil penelitian dari Baylor College of Medicine, menyebutkan bahwa otak
anak akan mengecil 20% - 30% dari ukuran normal jika anak jarang diajak bermain
atau disentuh. Rupanya, bermain adalah cara menstimulasi untuk memercepatkan
tumbuh-kembang kecedasan anak.
Dan ternyata lagi, 80% otak anak berkembang pesat
sekali terutama pada periode yang disebut dengan golden age, atau masa-masa keemasan potensi anak, yaitu antara di usia
0 hingga lima tahun. Menariknya, tiap-tiap informasi apapun akan diserapnya,
tanpa melihat baik atau buruk.
Artinya,
ia akan menyerap semua informasi di sekitarnya, ia akan merekam bagaimana
caranya orang tuanya menyikapi segala sesuatu, caranya bicara, maupun caranya
bertindak atau sesuatu.
Kesimpulan saya akhirnya, saat melihat sikap
anak yang seperti melawan, mungkin pada dasarnya, bukan sebab ia sedang ingin membantah
atau melawan. Namun, ia hanya sedang mencoba ingin membuktikan kebenaran ucapan
orang tuanya. Barulah setelah ia tahu, polahnya berbahaya, ia berhenti sendiri.
Ia dapat pengetahuan baru, kalau tidak hati-hati, ia bisa jatuh lagi kesekian
kali. Ia belajar dari pengalaman!
Barangkali, inilah yang dimaksud dengan
proses emas otak anak tersebut. Jika demikian halnya, masuk akal juga mengapa
Nabi Saw memilih tidak pernah marah pada anak-anak kecil.
Baiklah, Nak. Bermainlah sepuasmu. Bunda di sampingmu,
untuk menjagamu selalu. []