Bagi orang tua, kehadiran anak adalah anugrah
tiada tanding.
Kebahagiaan yang melimpah. Meski begitu, terkadang
sebagai orang tua
kita juga kerap mengeluh dengan sikap atau perilaku nakal mereka.
Entah itu karena ia bandel, suka melawan perintah, atau bahkan karena prestasi belajarnya yang tidak pernah membaik. Apalagi jika ia suka bikin iseng dan onar sama teman-temannya, dan di rumah suka bikin gaduh, dan bawaannya kisruh terus.
Entah itu karena ia bandel, suka melawan perintah, atau bahkan karena prestasi belajarnya yang tidak pernah membaik. Apalagi jika ia suka bikin iseng dan onar sama teman-temannya, dan di rumah suka bikin gaduh, dan bawaannya kisruh terus.
Kira-kira apa ya penyebabnya? Beberapa
waktu lalu, ketika saya mencari bagaimana cara mengajar anak-anak didik, saya
sangat puas ketika menemukan resep mendidik anak dari seorang ahli pengasuhan anak terkemuka dari Univesity Of California, Berkeley, Prof. Diana Baumrind Blumberg, Phd.
EMPAT RAHASIA TERBENTUKNYA PERILAKU ANAK
Ia
memberikan empat rahasia terbentuknya karakter atau kepribadian anak. Anak
nakal, pemalas, penuh semangat, sangat ditentukan
oleh bagaimana pola asuh yang diterapkan
oleh orang tua. Keempat pola asuh ini, semoga bisa menjadi bahan-bahan agar
kita bisa mengetahui cara membentuk kembali kepribadian buah hati.
Pertama,
Pola Asuh Secara Demokratis. Pola
asuh ini menjadikan anak memiliki kepribadian yang mandiri, mampu mengontrol
diri, mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya, tidak mudah stress, minatnya selalu luar biasa terhadap hal-hal
yang baru (termasuk pelajaran), dan ia selalu mau diajak kerja sama atau kooperatif
terhadap orang lain.
Tentu,
ini bentuk kepribadian setiap orang tua. Lalu seperti apa pola asuh demokratis
tersebut? Menurut ahli terkemuka tentang pengasuhan anak di Amerika
Serikat itu, orang tua yang selalu memprioritaskan
kepentingan anak. Orang tua tidak ragu-ragu mengendalikan mereka (anak-anak).
Orang tua senantiasa memilih bersikap rasional ketika menyikapi setiap perilaku
anak. Ia bersikap realistis terhadap
kemampuan anak.
Misalnya,
ia tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. Jikapun anak prestasinya
rendah di sekolah, ia memilih membimbing anaknya agar bisa menguasai pelajaran,
ketimbang memintanya dengan keras dan tajam. Apalagi dengan cara membentak dan
menghardik. Selain itu, orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada
anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan, dan
pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
Kedua, Pengaruh Pola Asuh Otoriter. Pola
asuh ini menjadikan anak menjadi penakut, pendiam, tertutup, tidak punya inisiatif,
suka menentang atau bandel, suka
melanggar norma-norma, kepribadiannya
lemah, mudah cemas dan terkesan suka menarik diri.
Ini
adalah cara pola asuh yang sifatnya kebalikan dari pola asuh demokratis, yaitu
cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. Biasanya dibarengi
dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak
bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah dan menghukum
apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang diinginkan oleh orang tua.
Ia tidak mengenal kompromi, ia selalu berkata
pokoknya, dan pokoknya anak harus nurut, titik.
Artinya, orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik, apakah sang
anak bisa mengerti atau tidak akan perintah atau kemauan si orang tua.
Ketiga,
Pengaruh Pola Asuh Permisif. Pola
asuh ini menghasilkan anak-anak yang impulsif, agresif, tidak patuh,
manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang matang secara sosial dan
kurang percaya diri. Mengapa anak bisa demikian? Sebabnya, karena
kebiasaan orang tua memanjakan anak.
Akhirnya,
orang tua membiarkan saja kemauan anak tanpa mau mengatur dan mengelolanya.
Hanya agar anak senang! Sayangnya, caranya salah. Anak kemudian dibiarkan tanpa pengawasan yang
cukup. Orang tua juga cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila
anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh
mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali
disukai oleh anak
Keempat,
Pengaruh Pola Asuh Penelantar. Pola
asuh ini menjadikan anak yang suka
mood-moodan, alias malas-malasan, impulsif, agresif, kurang punya tanggung
jawab, tidak mau mengalah, self esteem
( harga diri ) yang rendah, sering bolos dan sering bermasalah dengan
teman-temannya.
Pola
asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat
minim pada anak-anaknya, waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi
mereka seperti bekerja. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk
anak-anak mereka. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini,
mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. Ibu
yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada
anak-anaknya.
Bersambung . . . .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar