Senin, 16 Juli 2012

NAK, BERMAINLAH SEPUASMU! [2]


Jangan pernah sesekali memarahi, menghardik, apalagi sampai memaki karena saking jengkelnya dengan polah-tingkah anak! Pola-pola orang tua berperilaku dan berkata, akan dipelajari dan ditiru anak. 

Sebab selanjutnya, kelak sikap tersebut
akan dijadikan bahan-bahan anak bersikap
di kemudian hari. Ia akan suka juga memarahi,
menghardik dan memaki setiapkali menghadapi
masalah-masalahnya, bahkan cara ia menghadapi kedua orang tua dan lingkungannya!

     Kalimat di atas bukanlah kalimat saya. Itu adalah ungkapan seorang peminat anak, Dorothy Law. Barangkali ketika saya belum punya anak, sangat mudah menerima dan mengucapkannya, bahkan dengan entengnya memberikan nasehat pada orang tua yang suka demikian pada buah hatinya. Tetapi ternyata tidak semudah itu ketika kita sudah punya anak.
     Betapa repotnya mengatasi polah anak. Ya, bagaimana caranya jika tidak dimarahi untuk menghentikan kelakuan anak? Setelah dimarahi, baru ia bisa diam dan tak banyak tingkah yang bisa saja merugikan dirinya sendiri. Meski sudah diberitahu, diperingatkan agar berhenti, ia tetap saja melakukannya; naik di atas meja sambil berjingkrak-jingkrak, bikin tatanan buku yang sudah rapi jadi berantakan, buka lemari dan mengeluarkan semua isinya! Duh, gemes bener.
     Tetapi, dipikir-pikir, cara pikir saya berubah suatu hari. Yaitu ketika kasus si kecil terkena panasnya knalpot dan bikin tangannya kanannya melepuh. Walau sudah tahu tangannya sedang tak bisa digunakan, ia tetap saja menggunakan tangannya mengambil benda. Ia pun spontan menjerit dan menangis setelah itu. Bingung juga ngatasinya, saya sempat kepikiran akan melarangnya bermain.
     “Biarkan saja ia bermain. Dan biarkan saja ia menyentuh barang-barang dengan tangannya yang terluka...” kata suami mencegah niat saya seperti sama sekali tak cemas. “Wah, gimana mau dibiarin?? Bisa-bisa tangannya tak sembuh-sembuh, yah!” sahut saya tak sabar.
     “Bukan begitu. Maksudnya, agar dia mengetahui sendiri kalau tangan yang terluka itu ia gunakan untuk menyentuh benda, maka bakalan sakit. Setelah itu, baru kita kasih pesan. Nak, sakit kan kalau tangannya nggak dijaga? Lama-lama ia pasti akan mengerti tentang luka di tangannya sendiri. Bagus itu pembelajaran nalarnya”.
     Mulanya saya tidak setuju, tapi mencoba mengamini ucapan suami meski tak tega. Saya jalankan ucapannya, ketika ia menangis karena tangan dibuat menyentuh itu sakit, saya memberinya pengertian.
    Anehnya, tidak sampai tiga kali kasus, ia sudah mengerti. Ia mulai sangat menjaga tangannya. Pernah ia menyentuh benda, dan ia mengaduh. Lucunya, ia cuma meringis dan mesam-mesem saat kami tak sengaja melihatnya. Sepertinya ia lupa kalau tangannya luka.

Ternyata Rasulullah tak Pernah Marahi Anak Kecil!

     Mengingat kasus terlukanya tangan anak, saya jadi teringat salah satu hadist yang menceritakan tentang betapa Nabi Saw tak pernah memarahi anak. Bahkan, ketika sedang shalat sekalipun.
      Dalam hadist itu dikisahkan, Nabi Saw malah membiarkan Cucunya, Hasan dan Husein bermain-main di punggungnya ketika beliau dalam posisi rukuk. Beliau tidak mengangkat badan, kecuali setelah dua cucunya turun dari punggung beliau.
      Rupanya, di umur-umur segitu, anak memang masanya bermain. Ia sedang suka-sukanya melakukan eksperimen dan eksplorasi diri. Orang tua posisinya hanya memberikan sedikit pengertian jika polahnya merugikan atau salah. Barangkali, di awal-awal ia seperti tidak jera. Sehingga terkesan bandel dan nakal, sulit diatur.
     Mula-mula saya tak mengerti alasan kenapa anak kecil tak boleh dimarahi. Apalagi, jika menyimak teladan Nabi Muhammad Saw. Saya pikir, itu pengecualian. Beliau adalah seorang Nabi, dan saya hanyalah hamba Tuhan yang biasa. Orang awam.
     Bayangkan saja, betapa repotnya jika harus berdiam diri atau membiarkan anak dengan polahnya yang macam-macam dan membandel. Mana bisa saya tidak jengkel dan tidak memarahinya. Belum lagi pas sibuk-sibuknya anak rewel, dan bergerak ke sana-kemari.
     Nyatanya, tak saya sangka, meski masih belum bisa diajak ngobrol dengan bahasa karena baru belajar bicara, ia bisa diberi pengertian. Sungguh fenomena menakjubkan. Yaa meski harus dijelaskan berulang kali.
     Dalam penelitian ilmuwan modern, apa yang diterapkan oleh Nabi Saw ternyata memiliki korelasinya. Menurut  hasil penelitian dari Baylor College of Medicine, menyebutkan bahwa otak anak akan mengecil 20% - 30% dari ukuran normal jika anak jarang diajak bermain atau disentuh. Rupanya, bermain adalah cara menstimulasi untuk memercepatkan tumbuh-kembang kecedasan anak.
     Dan ternyata lagi, 80% otak anak berkembang pesat sekali terutama pada periode yang disebut dengan golden age, atau masa-masa keemasan potensi anak, yaitu antara di usia 0 hingga lima tahun. Menariknya, tiap-tiap informasi apapun akan diserapnya, tanpa melihat baik atau buruk.
     Artinya, ia akan menyerap semua informasi di sekitarnya, ia akan merekam bagaimana caranya orang tuanya menyikapi segala sesuatu, caranya bicara, maupun caranya bertindak atau sesuatu.
     Kesimpulan saya akhirnya, saat melihat sikap anak yang seperti melawan, mungkin pada dasarnya, bukan sebab ia sedang ingin membantah atau melawan. Namun, ia hanya sedang mencoba ingin membuktikan kebenaran ucapan orang tuanya. Barulah setelah ia tahu, polahnya berbahaya, ia berhenti sendiri. Ia dapat pengetahuan baru, kalau tidak hati-hati, ia bisa jatuh lagi kesekian kali. Ia belajar dari pengalaman!
     Barangkali, inilah yang dimaksud dengan proses emas otak anak tersebut. Jika demikian halnya, masuk akal juga mengapa Nabi Saw memilih tidak pernah marah pada anak-anak kecil.
Baiklah, Nak. Bermainlah sepuasmu. Bunda di sampingmu, untuk menjagamu selalu. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar