Rabu, 20 Juni 2012

MENGETAHUI DAN CARA MENGATASI ANAK BERMASALAH (2)


Sebagai orang tua, wajar jika terkadang 
kita seringkali mengeluh ketika anak  
sedang bermasalah, atau sedang nakal-nakalnya.






Misalnya, ketika dinasehati selalu bandel, berani sama orang tua, disuruh sholat selalu ngeles dan sebagainya. Tanpa kita sadari justru kita menyalahkan anak-anak ketika ada masalah dengan mereka. 
    Akibatnya emosi kita semakin tidak terkontrol, tangan melayang ke badan mereka tak terasa. Saya menemukan resep menarik dari Founder SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) Ahmad Faiz Zainuddin. 

Ia memberikan tips untuk mengatasi  masalah dengan anak yaitu :
1.      Perbaiki hubungan kita dengan Tuhan (ALLAH)
Ketika kita menduakan perintah-perintah Allah, Allah akan menegur kita sebagai bentuk sayangnya Allah kepada kita. Seringkali kita tidak sadar jika ditegur melalui sakit, rizki yang banyak dan yang lain. Maka Allah akan menegur kita melalui anak kita. Maka dari itu, sebelum menerapi anak kita yang bermasalah kita terapi dulu diri kita dengan memperbaiki hubungan kita dengan ALLAH. 
2.      Perbaiki hubungan kita dengan orang tua kita
Sabda nabi, “ridha allah bergantung pada ridha kedua orang tua, dan kemurkaan allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”. Dari sabda nabi tersebut, apabila kita sering menyakiti orang tua Allah tidak rela, walaupun kadang ketika kita hanya menyampaikan permintaan maaf bahasa orang tua kita sudah saya maafkan nak. 

Bentuk ketidakrelaan Allah itu bisa jadi dilewatkan anak-anak kita. Untuk itu, kita harus membuat hubangan kita dengan orang tua menjadi lebih baik, agar Allah membaikkan hubungan kita dengan anak kita dengan sendirinya.
3.      Perbaiki hubungan kita dengan pasangan
Kita menasehati kemudian dibantah, kita merasa sakit hati. Pernahkah kita merasa menyakiti hati pasangan kita ketika sedang berkomunikasi dengannya? Untuk itulah pentingnya memperbaiki hubungan kita dengan pasangan. Jika kita sebagai tauladan bagi anak-anak saja kita tidak bisa saling menghormati bagaimana kita bisa menuntut anak kita untuk menghormati kita. 

Dengan memperbaiki hubungan kita dengan pasangan, anak akan meningkatkan kepercayaan kepada kita hingga berubah menghormati kita. Kalau tingkat kepercayaan anak dengan kita meningkat, ketika kita menasehati niscaya akan didengarkan. 
4.      Perbaiki hubungan kita dengan anak kita yang sedang bermasalah
Jika dengan Allah, Orang tua dan pasangan sudah kita perbaiki saatnya memperbaiki hubungan dengan anak kita yang bermasalah. Kalau sebelumnya kita kurang memperhatikan anak kita yang bermasalah saatnya memberikan perhatian khusus secara intensif. 
5.      Perhatikan hubungan kita dengan semua orang
Dan yang terakhir, mari kita tengok hubungan kita dengan semua orang. Bagaimana kita memperlakukan orang, apakah kita memperlakukan orang dengan baik jika kita sedang butuh dengan orang yang bersangkutan atau kita selalu memperlakukan baik kepada siapa saja tanpa memandang bahwa orang itu yang anda butuhkan atau bukan. 

Jika kita masih memperlakukan orang lain dengan semau kita, pastilah Allah tidak rela. Bentuk ketidakrelaan Allah itu bisa berupa berbagai macam hal. Bisa jadi kita tidak dipercaya banyak orang, rezeki seret juga bisa berupa anak kita bermasalah (anak nakal). Untuk memperbaikinya, mulailah perlakukan semua orang dengan baik, baik itu tukang sapu, satpam, sampai pejabat sekalipun.

Selasa, 19 Juni 2012

MENGETAHUI DAN CARA MENGATASI ANAK BERMASALAH (1)


Bagi orang tua, kehadiran anak adalah anugrah tiada tanding.
Kebahagiaan yang melimpah. Meski begitu, terkadang sebagai orang tua
kita juga kerap mengeluh dengan sikap atau perilaku nakal mereka.


    Entah itu karena ia bandel, suka melawan perintah, atau bahkan karena prestasi belajarnya yang tidak pernah membaik. Apalagi jika ia suka bikin iseng dan onar sama teman-temannya, dan di rumah suka bikin gaduh, dan bawaannya kisruh terus.

     Kira-kira apa ya penyebabnya? Beberapa waktu lalu, ketika saya mencari bagaimana cara mengajar anak-anak didik, saya sangat puas ketika menemukan resep mendidik anak dari seorang ahli pengasuhan anak terkemuka dari Univesity Of California, Berkeley, Prof. Diana Baumrind Blumberg, Phd.


EMPAT RAHASIA TERBENTUKNYA PERILAKU ANAK
 
     Ia memberikan empat rahasia terbentuknya karakter atau kepribadian anak. Anak nakal, pemalas, penuh semangat,  sangat ditentukan oleh  bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Keempat pola asuh ini, semoga bisa menjadi bahan-bahan agar kita bisa mengetahui cara membentuk kembali kepribadian buah hati.

     Pertama, Pola Asuh Secara Demokratis. Pola asuh ini menjadikan anak memiliki kepribadian yang mandiri, mampu mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya, tidak mudah stress,  minatnya selalu luar biasa terhadap hal-hal yang baru (termasuk pelajaran), dan ia selalu mau diajak kerja sama atau kooperatif terhadap orang lain.

    Tentu, ini bentuk kepribadian setiap orang tua. Lalu seperti apa pola asuh demokratis tersebut? Menurut ahli terkemuka tentang pengasuhan anak di Amerika Serikat itu, orang tua yang selalu memprioritaskan kepentingan anak. Orang tua tidak ragu-ragu mengendalikan mereka (anak-anak). Orang tua senantiasa memilih bersikap rasional ketika menyikapi setiap perilaku anak. Ia  bersikap realistis terhadap kemampuan anak.

     Misalnya, ia tidak berharap melebihi batas kemampuan sang anak. Jikapun anak prestasinya rendah di sekolah, ia memilih membimbing anaknya agar bisa menguasai pelajaran, ketimbang memintanya dengan keras dan tajam. Apalagi dengan cara membentak dan menghardik. Selain itu, orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam hal memilih dan melakukan sesuatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

    Kedua, Pengaruh Pola Asuh Otoriter. Pola asuh ini menjadikan anak menjadi penakut, pendiam, tertutup, tidak punya inisiatif, suka  menentang atau bandel, suka melanggar norma-norma,  kepribadiannya lemah, mudah cemas dan terkesan suka menarik diri.

   Ini adalah cara pola asuh yang sifatnya kebalikan dari pola asuh demokratis, yaitu cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. Biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah dan menghukum apabila sang anak tidak mau melakukan apa yang diinginkan oleh orang tua.

      Ia  tidak mengenal kompromi, ia selalu berkata pokoknya, dan pokoknya anak harus nurut, titik.  Artinya, orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik, apakah sang anak bisa mengerti atau tidak akan perintah atau kemauan si orang tua.

     Ketiga, Pengaruh Pola Asuh Permisif. Pola asuh ini  menghasilkan  anak-anak yang impulsif, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang matang secara sosial dan kurang percaya diri. Mengapa anak bisa demikian? Sebabnya, karena kebiasaan  orang tua memanjakan anak.

   Akhirnya, orang tua membiarkan saja kemauan anak tanpa mau mengatur dan mengelolanya. Hanya agar anak senang! Sayangnya, caranya salah. Anak  kemudian dibiarkan tanpa pengawasan yang cukup. Orang tua juga cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak

      Keempat, Pengaruh Pola Asuh Penelantar. Pola asuh ini menjadikan  anak yang suka mood-moodan, alias malas-malasan, impulsif, agresif, kurang punya tanggung jawab, tidak mau mengalah, self esteem ( harga diri ) yang rendah, sering bolos dan sering bermasalah dengan teman-temannya.

        Pola asuh tipe yang terakhir ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya, waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. Dan kadangkala mereka terlalu menghemat biaya untuk anak-anak mereka. Seorang ibu yang depresi adalah termasuk dalam kategori ini, mereka cenderung menelantarkan anak-anak mereka secara fisik dan psikis. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mau memberikan perhatian fisik dan psikis pada anak-anaknya.
       Bersambung . . . .